Energi
yang paling banyak digunakan untuk aktifitas manusia adalah energi
minyak bumi dan energi listrik. Energi minyak bumi yang banyak
dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah minyak tanah, bensin dan
solar. Energi diperlukan untuk pertumbuhan kegiatan industri, jasa, perhubungan dan rumah tangga (Widodo dkk, 2005). Permintaan
kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia baik itu untuk
keperluan industri, transportasi dan rumah tangga dari tahun ketahun
semakin meningkat. Menyebabkan ketersediaan bahan bakar menjadi
terbatas, atau harga menjadi melambung. Terkait
dengan masalah tersebut, salah satu kebijakan pemerintah ialah dengan
pemanfaatan limbah kotoran ternak sapi sebagai energi alternatif
(biogas) sekala rumah tangga yang ramah lingkungan untuk memenuhi
keperluan rumah tangga itu sendiri.
Sejalan
dengan hal itu pemerintah juga mendorong upaya-upaya untuk penggunaan
sumber-sumber energi alternatif yang dianggap layak dilihat dari segi
teknis, ekonomi, dan lingkungan, apakah itu berupa biogas/gas bio,
biofuel, briket arang dan lain sebagainya. Sumber energi alternatif telah banyak ditemukan sebagai pengganti bahan bakar minyak, salah satunya adalah Biogas. “Melalui
teknologi terapan pembuatan Biogas dari kotoran ternak berpeluang
menjadi solusi alternatif atas masalah bahan bakar minyak tanah dan
peningkatan produksi ternak menuju swa-sembada daging serta mendorong
perbaikan lingkungan (Jawa Pos, 2005).”
Biogas
merupakan salah satu dari banyak macam sumber energi terbarukan, karena
energi biogas dapat diperoleh dari air buangan rumah tangga, kotoran
cair dari peternakan ayam, sapi, babi, sampah organik dari pasar,
industri makanan dan limbah buangan lainnya. Produksi biogas
memungkinkan pertanian berkelanjutan dengan sistem proses terbarukan dan
ramah lingkungan. Pada umumnya, biogas terdiri atas gas metana (CH4)
sekitar 55-80%, dimana gas metana diproduksi dari kotoran hewan yang
mengandung energi 4.800-6.700 Kcal/m3, sedangkan gas metana murni
mengandung energi 8.900 Kcal/m3. Sistem produksi biogas
mempunyai beberapa keuntungan seperti: (a) mengurangi pengaruh gas rumah
kaca, (b) mengurangi polusi bau yang tidak sedap, (c) sebagai pupuk,
dan (d) produksi daya dan panas (Sri Wahyuni, 2009).
Dikelompok
tani Muara Dhipa kelurahan Lingkar Barat, Kecamatan Gading Cempaka
merupakan salah satu kelompok tani yang berpotensi besar dalam
pembuatan biogas, mengingat sebagian besar penduduknya bermata
pencaharian petani dan nelayan sekaligus peternak sapi. Kotoran ternak
selain dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti bahan
bakar minyak (BBM) pembuatan biogas juga dapat mendukung usaha tani
dalam penyediaan pupuk organik sehingga mengurangi ketergantungan
terhadap pupuk kimia. Banyaknya populasi ternak di kelompok tani ada
peluang besar untuk pembuatan biogas, sehingga dapat mengurangi konsumsi
bahan bakar di wilayah Kelurahan Lingkar Barat. Teknologi pengolahan
biogas di Kelurahan Lingkar Barat Kecamatan Gading Cempaka sangat
sederhana sekali karena dengan peralatan yang sangat sederhana, murah
dan mudah diperoleh, masyarakat sekitar mampu menghasilkan biogas dengan
memanfaatkan kotoran ternak sapi yang dapat digunakan dalam memenuhi
kebutuhan hidup masyarakat untuk memasak dan penerangan. Pembuatan
biogas telah dilakukan di desa tersebut yang diperoleh dari bantuan
sosial (Bansos) Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bengkulu
dikelola langsung oleh Kelompok Tani Muara Dhipa. Kelompok Tani Muara
Dhipa beranggota 35 orang dengan rata-rata pemeliharaan sapi 2-10 ekor,
karena perbedaan jumlah sapi pada perorangan kelompok sehingga digester
bantuan biogaspun berbeda-beda karena tingkat kebutuhan kepala keluarga.
Teknologi pengolahan biogas dengan digester yang terbuat dari bahan fiberglass cocok
diterapkan untuk masyarakat kecil mengingat murahnya biaya instalasi
serta kemudahan dalam pengoperasian serta perawatannya (Tim Distanak
Kota Bengkulu, 2012).
Kegiatan
peternakan sapi dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan,
yaitu peningkatan pendapatan peternak, perluasan kesempatan kerja,
peningkatan ketersediaan pangan dan penghematan devisa. Namun tanpa
dilakukan pengolahan limbah yang tepat, kegiatan ini menimbulkan
permasalahan lingkungan (Sri Wahyuni, 2009).
Usaha
untuk mengurangi bahkan mengeliminasi dampak negatif dari kegiatan
usaha peternakan sapi ini terhadap lingkungan tergantung pada beberapa
faktor seperti kebijakan pemerintah dan ketersediaan teknologi
pengolahan limbah. Oleh sebab itu, dengan adanya investasi instalasi
biogas ini memberikan dampak positif pada peternakan sapi dari aspek
ekonomi dan kebersihan lingkungan seperti bahan bakar gas, pupuk organik
padat dan cair dengan kandungan unsur hara nitrogenphospatkalium(NPK)
yang dibutuhkan tanaman cukup tersedia. Selain itu, teknologi biogas
memiliki keunggulan sangat praktis, bahan baku lokal cukup tersedia dan
teknologinya mudah diaplikasikan.
Teknologi
ini memanfaatkan mikroorganisme yang tersedia di alam untuk merombak
dan mengolah berbagai limbah organik yang ditempatkan pada ruang kedap
udara (anaerob). Hasil proses perombakan tersebut dapat menghasilkan
pupuk organik cair dan padat yang bermutu berupa gas yang terdiri dari
gas metana (CH4) dan gas karbon dioksida (CO2). Gas tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar gas (BBG) yang biasa disebut dengan biogas (Simamora dkk, 2006).
Pengertian Limbah Kotoran Ternak Sapi
Limbah
kotoran ternak adalah salah satu jenis limbah yang dihasilkan dari
kegiatan peternakan, limbah ini mempunyai andil dalam pencemaran
lingkungan karena limbah kotoran ternak sering menimbulkan masalah
lingkungan yang mengganggu kenyamanan hidup masyarakat disekitar
peternakan, gangguan itu berupa bau yang tidak sedap yang ditimbulkan
oleh gas yang berasal dari kotoran ternak, terutama gas amoniak (NH3) dan gas Hidrogen (H2S) (Peternakan Kita. 2012).
Ada
beberapa jenis limbah dari peternakan dan pertanian, yaitu limbah
padat, cair dan gas. Limbah padat adalah semua limbah yang berbentuk
padatan atau berada dalam fase padat. Limbah cair adalah semua limbah
yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair. Sementara limbah gas
adalah semua limbah yang berbentuk gas atau berada dalam fase gas.
Limbah tersebut dapat diolah menjadi energi, yaitu biogas (Sri Wahyuni,
2009).
Pengertian Biogas
Biogas
adalah gas yang dapat dibakar atau sumber energi yang merupakan
campuran berbagai gas, dengan gas methana dan gas karbon dioksida
merupakan campuran yang dominan (Simamora dkk, 2006).
Harahap dkk, (1978)
menyatakan bahwa gasbio, merupakan bahan bakar berguna yang dapat
diperoleh dengan memproses limbah di dalam alat yang dinamakan penghasil
gasbio Dinyatakan pula bahwa gasbio memiliki nilakalorinya cukup
tinggi, yaitu dalam kisaran 4.800-6.700 Kcal/m3, dimana gas methana murni (100%) mempunyai nilai kalori 8.900 Kcal/m3. Kisaran komposisi gas dalam gasbio dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi gas dalam biogas
|
No
|
Jenis gas
|
Campuran Kotoran + Sisa Pertanian
|
Kotoran Sapi
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
|
Methana (CH4)
Karbon dioksida (CO2)
Nitrogen (N2)
Karbon Monoksida (CO)
Oksigen (O2)
Propen (C3H8)
Hidrogen sulfida (H2S)
Nilai kalori (Kcal/m3)
|
54-70%
27-45%
0,5-3%
0,1%
0,1%
-
Sedikit sekali
4800-6700
|
65,7%
27,0%
2,3%
0,0%
1,0%
0,7%
Tidak teratur
6513
|
Sumber : Harahap dkk .(1978)
Biogas
merupakan campuran gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang
terjadi pada material-material yang dapat terurai secara alami dalam
kondisi anaerobik, pada umumnya biogas terdiri atas gas metana (CH4) 50 samapi 70 %, gas karbon dioksida (CO2) 30 sampai 40%, hidrogen (H2)
5 sampai 10%, dan gas-gas lainnya dalam jumlah yang sedikit
(Sri Wahyuni, 2009). Komposisi gas
yang terkandung di dalam biogas dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi gas dalam biogas
|
No.
|
Jenis Gas
|
Volume (%)
|
|
1
3
4
|
Metana (CH4)
Karbondioksida (CO2)
O2, H2, dan H2S
|
50 – 60
30 – 40
1 – 2
|
Sumber : Sri Wahyuni. 2009
Biogas dari Limbah Peternakan
Peternakan
sapi di kelompok tani Muara Dhipa rata-rata 2-10 ekor sapi dengan
lokasi yang tersebar di sekitar kelurahan Lingkar Barat Kota Bengkulu.
Kondisi demikian sulit untuk terintergrasi dengan sistem pertanian, sapi
yang mempunyai bobot badan 450 kg menghasilkan limbah berupa kotoran
dan urin lebih kurang 25 kg per ekor per hari. Limbah ternak sapi
terdiri dari limbah, padat, limbah cair, dan limbah gas. Penanganan
limbah yang baik sangat penting karena dapat memperkecil dampak negatif
pada lingkungan, seperti polusi tanah, air, udara dan penyebaran
berbagai penyakit menular.
Kegiatan
peternakan sapi dapat memberikan dampak positif seperti terhadap
pembangunan, yaitu berupa peningkatan pendapatan peternak, perluasan
kesempatan kerja, peningkatan ketersediaan pangan, dan penghemat devisa
(Sri Wahyuni, 2009). Namun apabila tidak dikelola dengan tepat kegiatan
ini akan menimbukan permasalahan lingkungan. Pada dasarnya penggunaan
biogas memiliki keuntungan ganda yaitu gas metan yang dihasilkan bisa
berfungsi sebagai bahan bakar, sedangkan limbah cair dan limbah padat
dapat digunakan sebagai pupuk organik. Tabel potensi produksi gas dari
berbagai tife kotoran hewan dan produksi kandungan bahan kering kotoran
ternak dari beberapa jenis ternak dapat dilihat pada tabel 3 dan 4
berikut ini.
Tabel 3. Potensi produksi gas dari berbagai tipe kotoran ternak.
|
Tipe Kotoran Ternak
|
Produksi gas per kg kotoran (m3)
|
|
· Sapi
· Babi
· Peternakan ayam
|
· 0,023-0,040
· 0,040-0,059
· 0,065-0,116
|
Sumber : United Nations. 1984
Tabel 4. Produksi dan kandungan bahan kering kotoran beberapa jenis ternak
|
Jenis Ternak
|
Bobot Ternak/ekor
|
Produksi Kotoran Ternak(kg/hari)
|
% Bahan Kering
|
|
·Sapi Potong
·Sapi Perah
·Ayam Petelur
·Ayam Pedaging
·Babi Dewasa
·Domba
|
· 520
· 640
· 2
· 1
· 90
· 40
|
· 29
· 50
· 0,1
· 0,06
· 7
· 2
|
· 12
· 14
· 26
· 25
· 9
· 26
|
Sumber : United Nation. 1984
Hubungan Antara Biogas Dengan Lingkungan Hidup
Biogas
mempunyai keunggulan dibandingkan dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang
berasal dari fosil. Sifatnya yang ramah lingkungan dan dapat
diperbaharui merupakan keunggulan dari biogas, Bahan bakar fosil selama
ini diisukan menjadi penyebab dari pemanasan global. Bahan bakar fosil
yang pembakarannya tidak sempurna dapat menyebabkan gas CO2
naik kepermukaan bumi. Hal tersebut menyebabkan tingginya suhu di atas
permukaan bumi seperti yang terjadi pada saat ini. Biogas sebagai salah
satu energi alternatif skala rumah tangga yang ramah lingkungan
dipastikan dapat menggantikan bahan bakar fosil yang keberadaannya
semakin hari semakin terbatas.
Sastrosupeno
(1984), mengatakan bahwa lingkungan hidup, yaitu apa saja yang
mempunyai kaitan kehidupan pada umumnya dan kehidupan manusia pada
khususnya. Manusia mempunyai hubungan dengan lingkungan lainnya seperti
hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda/alat, termasuk hal-hal yang merugikan
lingkungan. Pencemaran lingkungan hidup tidak hanya dalam bentuk
pencemaran fisik seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran
tanah tetapi juga pencemaran lingkungan sosial yang seringkali
menimbulkan keresahan sosial yang gawat (Haeruman, 1978).
Kurangnya
pendekatan-pendekatan yang serasi terhadap kebutuhan-kebutuhan
masyarakat lokal, seringkali menimbulkan keresahan-keresahan yang dapat
mengganggu kelangsungan pembangunan daerah itu sendiri. Mutu lingkungan
dapat diartikan sebagai derajat pemenuhan kebutuhan dasar dalam kondisi
lingkungan. Semakin tinggi derajat pemenuhan kebutuhan dasar itu,
semakin tinggi pula mutu lingkungan dan begitu juga sebaliknya semakin
rendahnya pemenuhan kebutuhan dasar maka semakin buruk mutu lingkungan.
Menurut
Haeruman (1978), pembangunan tidak hanya penting untuk meningkatkan
taraf hidup dalam arti materi saja, tetapi juga penting untuk
memperhatikan aspek-aspek non materi. Makin tinggi derajat mutu hidup
dalam suatu lingkungan tertentu, makin tinggi pula derajat mutu
lingkungan tersebut Pengaturan lingkungan hidup adalah suatu konsep
pengelolaan kegiatan manusia sedemikian rupa sehingga kesehatan
biologis, keanekaragaman dan keseimbangan ekologis dapat dipertahankan.
Pengaturan lingkungan hidup berkepentingan dengan penyediaan suatu
keserasian antara kegiatan manusia dengan alam. Alam dalam hal ini
adalah proses biologis yang berhubungan timbal balik antara organisme
dengan lingkungannya (Haeruman, 1979).
Dikatakan
selanjutnya oleh Edmunds dan Letey (1973), bahwa akibat dari limbah dan
bahan-bahan buangan dari kegiatan manusia dapat menurunkan kualitas
lingkungan. Pengurangan jenis dari suatu populasi mengurangi
keanekaragaman lingkungan hidup, kerusakan rantai makanan, dan
menyebabkan ketidak seimbangan ekologis yang pada akhirnya dirasakan
sebagai kemunduran kesehatan manusia. Oleh karena itu, pengaturan
lingkungan hidup merupakan konsep yang berkepentingan dengan kesehatan
manusia jangka panjang. Pengatur lingkungan hidup adalah pengambilan
keputusan yang mengatur alokasi sumber dan desain hasilnya mempengaruhi
siklus kehidupan ekologis (Edmunds dan Letey, 1973).
Menurut
Haeruman (1979), yang termasuk ke dalam pengatur lingkungan hidup
adalah pemerintah dan segala tingkatannya, seperti departemen pertanian,
pertambangan, kehutanan, pejabat-pejabat dalam perusahaan swasta yang
secara tidak langsung menciptakan limbah yang menjadi beban pada
lingkungan hidup, pemuka adat dan agama yang mengatur kehidupan
perorangan dan bermasyarakat.
Demikian
pula halnya dengan peternak, baik perorangan maupun kelompok diperlukan
pengatur lingkungan hidup karena keputusannya dapat mempengaruhi
lingkungan hidup dengan limbah ternak yang dihasilkan dari kegiatan
usaha peternakan. Oleh karena itu, peternak berkewajiban menangani
sedemikian rupa sehingga limbah ini tidak menjadi beban lingkungan.
Manfaat Biogas
Manfaat
energi biogas adalah menghasilkan gas metan sebagai pengganti bahan
bakar khususnya minyak tanah dan dapat dipergunakan untuk memasak. Dalam
skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik.
Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa
kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik
pada tanaman/budidaya pertanian. Manfaat energi biogas yang lebih penting lagiadalah mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar minyak bumi yangtidak bisa diperbaharui. Menurut (Sri Wahyuni, 2008) limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman, nilai
kalori dari satu meter kubik biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara
dengan setengah liter minyak diesel oleh karena itu, biogas sangat cocok
digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
pengganti minyak tanah, Liquefied Petroleum Gas (LPG), butana,
batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil. Kesetaraan
biogas dapat dilihat dari Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Biogas dibandingkan dengan bahan bakar lain
|
Biogas
|
Bahan Bakar Lain
|
|
1 m3 Biogas
|
· Elpiji 0,46 kg
· Minyak Tanah 0,62 liter
· Minyak Solar 0,52 liter
· Bensin 0,80 liter
· Gas kota 1,50 m3
· Kayu Bakar 3,50 kg
|
Sumber : Sri Wahyuni. 2008
Jenis-Jenis Reaktor Biogas
Sri
wahyuni (2009). Digester biogas di Indonesia sudah dikembangkan
diberbagai daerah. Secara garis besar ada empat macam digester biogas
yang biasa digunakan :
1. Reaktor Kubah Tetap (Fixed-Dome)
Reaktor
ini disebut juga reaktor China. Dinamakan demikian karena reaktor ini
dibuat pertama kali di China sekitar tahun 1930, kemudian sejak saat itu
reaktor ini berkembang dengan berbagai model. Pada reaktor ini memiliki
dua bagian yaitu digester sebagai tempat pencerna material biogas dan
sebagai rumah bagi bakteri, baik bakteri pembentuk asam ataupun bakteri
pembentuk gas metana. Bagian pertama dapat dibuat dengan kedalaman
tertentu menggunakan batu, batu bata atau beton. Strukturnya harus kuat
karena menahan gas agar tidak terjadi kebocoran. Bagian yang kedua
adalah kubah tetap (fixed-dome). Dinamakan kubah tetap karena bentuknya menyerupai kubah dan bagian ini merupakan pengumpul gas yang tidak bergerak (fixed).
Bentuk reaktor kubah tetap terbuat dari semen Gas yang dihasilkan dari
material organik pada digester akan mengalir dan disimpan di bagian
kubah. Keuntungan dari reaktor ini adalah biaya konstruksi lebih murah
daripada menggunakan reaktor terapung, karena tidak memiliki bagian yang
bergerak menggunakan besi yang tentunya harganya relatif lebih mahal
dan perawatannya lebih mudah. Sedangkan kerugian dari reaktor ini adalah
seringnya terjadi kehilangan gas pada bagian kubah karena konstruksi
tetapnya.
2. Reaktor Floating Drum
Reaktor
jenis terapung pertama kali dikembangkan di India pada tahun 1937
sehingga dinamakan dengan reaktor India. Memiliki bagian digester yang
sama dengan reaktor kubah, perbedaannya terletak pada bagian penampung
gas menggunakan peralatan bergerak menggunakan drum. Drum ini dapat
bergerak naik-turun yang berfungsi untuk menyimpan gas hasil fermentasi
dalam digester. Pergerakan drum mengapung pada cairan tergantung dari
jumlah gas yang dihasilkan. Keuntungan dari reaktor ini adalah dapat
melihat secara langsung volume gas yang tersimpan pada drum karena
pergerakannya. Karena tempat penyimpanan yang terapung sehingga tekanan
gas konstan. Sedangkan kerugiannya adalah biaya material konstruksi dari
drum lebih mahal. Faktor korosi pada drum juga menjadi masalah sehingga
bagian pengumpul gas pada reaktor ini memiliki umur yang lebih pendek
dibandingkan menggunakan tipe kubah tetap.
3. Reaktor Balon
Reaktor
balon merupakan jenis reaktor yang banyak digunakanpada skala rumah
tangga yang menggunakan bahan plastik sehingga lebih efisien dalam
penanganan dan perubahan tempat biogas. reaktor ini terdiri dari satu
bagian yang berfungsi sebagai digester dan penyimpan gas masingmasing
bercampur dalam satu ruangan tanpa sekat. Material organik terletak
dibagian bawah karena memiliki berat yang lebih besar dibandingkan gas.
4. Reaktor Fiberglass
Reaktor bahan fiberglass merupakan jenis reaktor yang banyak digunakan pada skala rumah tangga yang menggunakan bahan fiberglass
sehingga lebih efisien dalam penanganan dan perubahan tempat biogas.
Reaktor ini terdiri dari satu bagian yang berfungsi sebagai digester dan
penyimpanan gas masing-masing bercampur dalam satu ruangan tanpa sekat.
Reaktor dari bahan fiberglass ini sangat efisien karena sangat
kedap, ringan dan kuat. Jika terjadi kebocoran mudah diperbaiki atau
dibentuk kembali seperti semula, dan yang lebih efisiennya adalah
reaktor dapat dipindahkan sewaktu-waktu jika peternak sudah tidak
menggunakannya lagi.
__________________________________________________________________________
Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bengkulu. 2012. Laporan Akhir Kegiatan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian TA. 2012. Kota Bengkulu
Edmunds. S dan I. Letey. 1973. Environmental Administration. Mc.Graw-Hill Book
Company. New York.
Haeruman, H.1979. Perencanan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Program Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Haeruman, J.S. 1978. Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Hubungannya dengan
Teknologi dan Hukum. Penataran Anggota Bappeda Seluruh Indonesia dalam Analisa Dampak Lingkungan. Bappenas. Bandung.
Harahap F M, Apandi dan Ginting S. 1978. Teknologi Gasbio. Pusat Teknologi Pembangunan Institut Teknologi Bandung. Bandung .
Jawa Pos. Raharjo, Wahyu. 22 Juli 2005. Teknologi Pengolahan Limbah Ternak Merupakan Solusi Alternatif Atas Masalah Bahan Bakar.
Peternakan Kita. 2012. Cara membuat BIOGAS dari kotoran sapi. blongspot.com. 07 Mei 2012
Simamora, S., Salundik, S. Wahyuni dan Sarajudin. 2006. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak dan Gas dari Kotoran Ternak. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Soehadji. 1992. Kebijaksanaan Pemerintah dalam Pengembangan Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta.
Soekartawi. 1987. Prinsip Dasar Eko-nomi Produksi Teori dan Apli-kasinya. CV Rajawali, Jakarta.
Sastrosupeno. 1984. Manusia, Alam dan Lingkungan. Depratemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Jakarta.
Wahyuni, Sri. 2009 Biogas. Bogor
Wahyuni, Sri. 2008. Analisa Kelayakan Pengembangan Biogas Sebagai Energi Alternatif Berbasis Individu dan Kelompok, Tesis Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
Widodo, T.W., A. Asari, A. Nurhasanah and E. Rahmarestia. 2005. Biogas Technology Development for Small Scale Cattle Farm Level in Indonesia. International Seminar on Development in Biofuel Production and Biomass Technology. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar